Refleksi Hasil PISA 2018, UN 2021 Dihapus

UN 2021 ditiadakan, diganti Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter

Hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) untuk Indonesia tahun 2018 telah diumumkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Hasil PISA tersebut menempatkan Indonesia dalam peringkat bawah untuk kemampuan literasi, matematika dan sains. Di antara penilaian untuk 78 negara, Indonesia berada diurutan 72 untuk literasi (skor 371), peringkat 72 untuk matematika (skor 379), dan ranking 70 (skor 396) untuk sains. sebuah kenyataan miris akan rendahnya mutu siswa dalam bidang literasi.

10 Negara dengan skor pisa terendah. (10 dari 78 Negara)
Gambar diambil dari Zenius(dot)net.

Menurut kami, hasil skor PISA tersebut merupakan tamparan bagi wajah pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak? Disandingkan dengan negara lain, kita masih jauh tertinggal. bahkan nilai kita masih di bawah nilai rata-rata Dunia. Mungkin kita salah arah dibandingkan arah pendikan negara maju. Tidak jauh beda sebenarnya Target penilaian PISA dengan Kompetinsi Dasar (KD) yang tertuang di dalam kurikulum nasional yaitu Kurikulum 2013. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya?

permasalahannya adalah pembelajaran di kelas-kelas kita cenderung hanya mengejar kemampuan kognitif ingatan semata. Antar konsep mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain tidak saling berhubungan. sedangkan apa yang menjadi tuntutan PISA adalah siswa mampu bepikir tingkat tinggi (high order thingking skills biasa disingkat HOTS) yaitu mengidentifikasi masalah, merumuskan permasalahan, mengambil tindakan untuk pemecahan masalah, dan menyelesaikan masalah tersebut secara terorganisis. jadi, Seharusnya dari ingatan atas konsep-konsep materi pelajaran yang dimiliki oleh siswa, digunakan untuk diterapkan dalam situasi berbeda (konteksual/dunia nyata). Untuk memecahkan permasalahan dunia nyata tersebut, siswa melakukan analisa dengan menggunakan segala konsep lintas-pelajaran (bahasa indonesia, matematika, sains, dll) yang sudah dikuasai. Analisa data dilakukan secara terorganisis yang pada akhirnya siswa mampu mendapatkan jawaban/solusi atas permasalahan tersebut.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pencapaian hasil belajar siswa dalam PISA kedepan. Tentu persiapannya harus matang, mulai dari Sekarang.

Bisa jadi, adanya Ujian Nasional (UN) mejadikan guru hanya mengejar nilai semata, dengan mengesampingkan pembentukan kemampuan berpikir kritis dan tingkat tinggi (HOTS) pada siswa. buktinya, dengan disisipkannya soal HOTS yang lebih banyak, mayoritas siswa mengeluh pasca ujian.

Nadhiem Makarim (menteri pendidikan baru) datang mencoba menawarkan angin segar perubahan. Untuk memotong mata rantai orientasi guru yang masih berfokus pada UN, dan mengarahkan guru berfokus pada kemampuan bernalar, berpikir kritis, berpikir tingkat tinggi, Mendikbud menghapus UN untuk tahun 2021. Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter. Pelaksanaan assesment tersebut akan dilakukan untuk siswa yang berada di tengah jenjang sekolah yaitu di kelas 4 untuk siswa SD, dikelas 8 untuk siswa SMP, dan kelas 11 untuk siswa SMA. guru dan sekolah diharapkan terdorong untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya. Dengan assesment seperti ini, diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan sistem penilaian global seperti PISA.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *